Meditasi pada prinsipnya adalah bagaimana kita menonaktifkan fisik secara sadar/ menyengaja. Yang diharapkan kemudian adalah jiwa berada dalam keadaan lebih tinggi dari keadaan fisik yang serba terbatas. Yang disebut dengan ASC (altered states of consciousness) : kesadaran rohani yang lebih tinggi.
Meditasi berbeda dengan mimpi, di mana mimpi merupakan pengalaman rohani yang dilalui oleh mental yang tidak memiliki obyek pikir yang jelas/ tidak disengaja.
Sarana untuk memusatkan pikiran seperti gambar-gambar, mantra-mantra, bebunyian yang ritmis, dsb banyak ditemukan pada praktek para pelaku meditasi.
Islam melarang menggunakan obyek pikir dengan media benda-benda (makhluk), karena akan menyebabkan kita tidak bisa sampai kepada hakikat ketuhanan, yaitu yang tidak bisa dibayangkan oleh pikiran, rasa, maupun hati. Islam hadir untuk meluruskan persepsi tentang Tuhan itu, karena jika Tuhan digambarkan seperti apa yang dipikirkan, maka jiwa berhenti pada benda itu dan tidak bisa masuk kepada keadaan transeden yang sebenarnya (hakikat).
Sri Kresna, Budha Gautama, Yesus Kristus, menurut para pengikutnya merupakan perwujudan Tuhan itu sendiri, sehingga mereka yang sampai pada batasan ini rohaninya akan ”terhalang”. Akibatnya obyek pikiran kita berhenti kepada alam yang masih bisa kita bayangkan (dalam bahasa Islam disebut syirik). Padahal ada Tuhan Yang Maha Mutlak yang tidak bisa dijangkau oleh pikiran manusia.
Pengalaman-pengalaman para praktikan meditasi seperti: bisa melihat hal-hal gaib, terlepasnya jiwa dari raga, bertemu Yesus, bertemu Wali Songo, kebal senjata tajam dsb. Bukanlah penentu sebuah kebenaran agama tertentu. Keadaan ini hanyalah sebagian dari pengalaman rohani. Tidak bisa diklaim milik orang Islam saja, atau milik orang Hindu saja, atau Kristen saja. Kemampuan ini bersifat universal dan alami, yang merupakan potensi yang sudah disediakan Tuhan kepada seluruh umat manusia. Bahkan orang atheis sekalipun bisa mengalaminya.
Kalaulah sang meditator mendapatkan pengalaman rohani atau pencerahan, sebenarnya hal itu hanyalah fenomena yang kerap terjadi pada siapa saja yang mengolahnya dengan baik. Fenomena ini bisa terjadi terhadap siapa saja atau penganut agama apa saja, apabila ia melakukan amalan pada prinsip yang sama yaitu ”olah jiwa yang universal”. Karena jiwa memiliki kemampuan yang unik dan transeden. Mereka yang menjalani laku tersebut (meditasi, yoga, reiki, wirid, zikir atau bertapa), akan mendapatkan kenikmatan, kedamaian, kekuatan jiwa, kekuatan berpikir dan ketahanan tubuh yang melampaui orang biasa. Bagi orang awam, hal tersebut bisa saja dijadikan sebuah klaim kebenaran ketuhanan menurut persepsinya.
Sekali lagi tidak!
Kebenaran ketuhanan atau sebuah agama tidak bisa diukur karena fenomena kejiwaan, sebab setiap orang memiliki potensi tersebut. Tidak sedikit orang atheis yang mampu melakukan hal-hal yang luar biasa tanpa harus beragama.
Lalu bagaimana yang seharusnya?
Mulailah dengan kesadaran ini, yaitu kesadaran tertinggi di dalam menuju Zat Mutlak, yang tidak bisa diperbandingkan dengan setiap materi dan imajinasi pikiran. Ia ada sebagai penggerak setiap materi. Sang penggerak napas dan seluruh organ tubuh kita telah menyatakan diri-Nya amat dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher manusia. Ia akan merespon jika kita memanggil-Nya.
Keyakinan dan kesadaran inilah yang harus lurus ditekankan dalam jiwa kita di dalam menghadap Zat Mutlak yang tak terbayangkan. Penetapan kesadaran inilah yang dilakukan Nabi SAW dalam melakukan shalat. Yaitu beliau meyakini dan sadar bahwa ia sedang bertemu dengan Tuhannya dan kepada-Nya ia akan kembali (Al Baqarah: 46).
Kemudian perhatikanlah, bumi bergerak, bulan bergerak, atom bergerak dalam aturan yang harmonis, dan pandanglah seluruh alam semesta dengan hening. Semuanya begerak serentak dengan perencanaan yang sangat baik dan sempurna. Semua mengikuti Gerak yang Hakiki. Semua ”mengorbit” kepada Kekuatan yang Maha Tinggi.
Anda akan melihat seluruh alam semesta bersujud (mengorbit) dengan caranya masing-masing kemudian semuanya bertasbih dengan bahasanya yang khusus.
Lalu lihatlah yang menggerakkan jantung anda. Jangan lihat jantungnya, tetapi yang menggerakkannya, yang amat dekat, yang hidup, yang kuasa. Maha Suci Engkau ya Allah. Kesadaran ini hendaknya terus dipelihara dalam setiap kesempatan, terlebih pada saat menunaikan shalat.
Kesimpulan:
1) Shalat lebih tinggi derajatnya dibanding meditasi.
Shalat adalah perintah langsung dari Allah SWT yang sangat istimewa, sangat special, hanya untuk mereka yang mau menerima hidayah Islam. Shalat adalah satu-satunya sarana untuk ”mengorbit” kepada-Nya. Bahkan cara maupun bacaannya bukanlah hasil rekayasa Muhammad.
2) Meditasi bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, dan merupakan hal yang biasa saja. Tak perlu memeluk suatu agama untuk bisa melihat hal-hal gaib.
3) Seorang yang mengaku Muslim tetapi tidak mengerjakan shalat (baca: tidak mau mengorbit) pada hakikatnya ia telah ”hilang” di galaksi tanpa batas dan ”mati” secara spiritual. Berapapun banyaknya pengalaman spiritual yang ia alami tidaklah membawanya kepada garis orbit yang sesungguh-Nya.
*) disarikan dari berbagai sumber, diantaranya:
- Al Qur’anul Karim,
- Spiritual Quotient oleh Ari Ginanjar Agustian, dan
- Berguru kepada Allah oleh Abu Sangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar