Tampilkan postingan dengan label introducing visual arts. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label introducing visual arts. Tampilkan semua postingan

08 Juni 2010

"Keseragaman" di Ajang Lomba Lukis Anak

Perkembangan seni lukis anak sangatlah menggembirakan. Fenomena ini bisa kita lihat dengan banyaknya kegiatan lomba melukis dan les lukis yang makin menjamur. Kebanyakan diselenggarakan dengan menggandeng sponsor. Di sisi lain, orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya, mulai mempertimbangkan adakah pilihan kegiatan ekstra lukis di sekolah tersebut. Kegiatan melukis sudah menjadi kegiatan yang mendapat tempat di hati orang tua. Anak yang sering memenangi lomba melukis pastilah membuat bangga orang tuanya.

Kecenderungan seperti tersebut di atas memang sangatlah menarik. Lomba lukis merupakan ajang rekreasi dan ekspresi. Banyaknya even lomba lukis berarti memberi kesempatan kepada anak-anak untuk bisa mengungkapkan ekspresi mereka dan sekaligus berekreasi. Tetapi jika kegiatan lomba-lomba itu tanpa didasari oleh pengetahuan tentang seni rupa justru akan membuat anak terpasung kretivitasnya.


Apa yang terlihat di banyak lomba lukis adalah keseragaman teknik maupun media yang dipakai. Sebelum lomba dimulai seakan sudah ditetapkan bahwa yang memenuhi standar ”layak menang” adalah yang memakai alat gambar merek tertentu. Di benak para peserta lomba juga terlihat terjadi ”kerancuan pola pikir dan motivasi” di mana mereka menganggap ”mereka harus memakai alat gambar merek itu supaya menang”. Di sisi lain anak-anak yang tidak menggunakan media tersebut, dengan alasan harganya yang mahal, sebelum bertanding mereka seakan sudah kalah duluan. Akibat yang terasa lebih tidak adil adalah yang memenangi lomba selalu anak ini atau anak itu. Sehingga ada julukan ”langganan menang lomba lukis”.


Bagaimana hal itu bisa terjadi? Sebuah ajang ekspresi mengapa justru memasung kreativitas anak-anak? Yang terjadi adalah adanya standarisasi dan keseragaman. Padahal di dunia seni, seni apapun juga, keseragaman adalah hal yang sangat dihindari.
Kenapa? Karena kalua mau yang pasti-pasti sudah ada Ilmu Pasti (Matematika). Justru kelebihan seni adalah karena memberi banyak kemungkinan. Akibat lebih lanjut adalah kretivitas anak menjadi tumpul. Anak usia TK dan SD yang seharusnya dibebaskan dari segala batasan justru sudah mulai dibelenggu ide-idenya.


Dengan makin seringnya kegiatan lomba lukis anak maka pertanyaan mengenai ”bagaimana kita harus menilai lukisan anak yang unik dan penuh misteri itu” seharusnya menjadi pertanyaaan utama bagi para juri lomba lukis anak. Diluar teknik, media atau alat gambar yang dipakai.


Menilai sebuah lukisan anak sebaiknya dan seharusnya tidak dilihat dengan ”kacamata” orang dewasa. Mereka mempunyai dunia sendiri yang sungguh berbeda dengan dunia orang dewasa. Kita perlu menilai hasil karya lukisan anak berdasarkan situasi dan kondisi. Jika lukisan orang dewasa merupakan ekspresi penuh kesadaran dan tanggung jawab (dalam arti si pelukis harus bisa mempertanggungjawabkan hasil karyanya), maka lukisan anak dibuat berdasarkan intuisi, murni suara hati, tanpa berpikir dan sifatnya main-main.
Goresan warnanya spontan dan bebas, sesuka hati. Warna yang mereka pakai sesuai suasana hatinya. Apa yang mereka tuangkan ke atas kertas adalah sesuai dengan pengalaman mereka, sesuai dengan kehidupan mereka yang masih ”polos”. Baik yang mereka alami (nyata) maupun berdasarkan khayalan (imajinasi). Bentuk-bentuk yang mereka goreskan kadang-kadang bersifat sangat pribadi, hanya memiliki arti bagi si anak. Wujudnya terlihat unik dan lucu. Dan disinilah sebenarnya ”kekuatan” dari lukisan anak.

Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam menilai lukisan anak adalah: keberanian menggores, makna cerita dan kemurnian ekspresi anak selaku pelukis (Dewobroto, Majalah ARTISTA, Mei 2004). Terlepas dari alat gambar yang dipakai, produk merek apapun sah-sah saja, selama tiga hal ini memadai.


Keberanian Menggores

Keberanian dan kebebasan mengungkapkan ekspresi (baca: menggoreskan warna) perlu ditanamkan sehingga apa yang diinginkan anak secara tuntas dapat diungkapkan. Biarkan anak meluapkan perasaan mereka dengan sebebas-bebasnya. Bentuk obyek yang kurang pas menurut kacamata orang dewasa. Obyek yang tumpang tindih, atau obyek yang terbalik karena anak memutar kertas gambarnya karena emosi yang begitu meluap, maupun pemilihan warna mereka yang cerah, segar dan berkesan ceria adalah hal yang biasa.


Makna Cerita

Pada umumnya anak yang kaya pengalaman akan lebih ”komplit” dalam bercerita lewat lukisannya. Obyek dalam lukisannya seakan ”bercerita”, tidak pasif. Anak yang kebetulan sering bepergian bersama orang tuanya akan mempunyai banyak perbendaharaan visual. Sehingga obyek lukisannya menjadi lebih variatif. Ketika anak akan melukis tema kebun binatang misalnya, Ia akan melukis kebun binatang dengan bermacam hewan seperti gajah, monyet, harimau, singa, rusa, jerapah, zebra, buaya, kuda nil, dan ular. Kemudian berbagai macam kandang hewan, kolam ikan, dan pepohonan. Tidak ketinggalan pula aktivitas manusia seperti pawang hewan, penjual tiket, penjual es, penjual bakso, dan penjual mainan, akan dilukisnya.


Kemurnian Ekspresi.

Kebebasan emosi memberi peluang kepada anak untuk menjadi kreatif. Mereka akan memiliki jiwa yang berani, fantasinya berkembang dan terlatih kepekaannya. Mereka bekerja menggunakan konsep, ide atau pengalamannya sendiri, sehingga lukisannya benar-benar murni.


Semakin bertambah usia, semakin bertambah pula pengalaman dan tingkat penalarannya. Dengan banyaknya latihan mereka akan semakin terlatih dalam penguasaan media, bahan dan alat gambar. Anak akan sering menggunakan lebih dari satu macam media. Inilah alasan adanya pengelompokan umur peserta (kategori) dalam lomba lukis anak.


Tugas besar yang harus segera mulai dilakukan oleh Event Organiser penyelenggara lomba lukis dan para juri lomba lukis adalah meletakkan kembali (repositioning) ajang lomba lukis sebagai ajang kreativitas anak. Bukan sekedar ajang rekreasi saja. Penjurian dinilai dengan mata kepala dan mata hati: menerobos bidang lukisan sampai ke dalam pribadi anak. Berusaha menyelami dunia anak, memakai kacamata anak, bukan dengan kacamata orang dewasa. Dan, sekali lagi, terlepas dari media atau alat gambar yang digunakan. Dengan perubahan cara pandang kita terhadap lukisan anak diharapkan kita bisa menjembatani munculnya generasi Indonesia penuh kreasi di masa datang.

03 Agustus 2009

How To Become A Cartoonist

So you want to become a cartoonist?
You have the talent. You've already bought the supplies. You even have a comfortable workspace in which to create. But what does a cartoonist do exactly?
What is a cartoonist?
As a cartoonist, you basically bring stories to life. Whether you're working on a comic strip or a feature-length animated movie, your job is to create a narrative using sequentially drawn frames. Not only must you have creative talent, but you also must possess a tremendous amount of patience. You must be meticulous and pay attention to every detail.
How do I become a cartoonist?
While talent is extremely important in the cartoon industry, so is proper training. Without credentials, it will be very difficult to get your foot in the door. Many employers only hire cartoonists who have attended art school. It's easy to see why when you look at current movies, shows, and comic strips. The stakes have gone up quite a bit in recent years, and studios are investing large sums of money into each new project. They only hire the best of the best. With solid credentials and a good education, your chances of employment and advancement go up substantially.
The right school
Unless you live right next to a famous art school, you might find it difficult to attend classes on a regular basis. Fortunately, getting a degree as a cartoonist has become much easier with online learning. Flexible class schedules, manageable workloads, and easy registration make Internet distance learning an easy option for thousands of professionals. With a click of your mouse, you could be well on your way to an exciting career as a serious cartoonist.

source: http://www.creativeartschools.com

How To Become An Artist

Competition to become an artist is intense. There are many talented individuals who are attracted by the concept of working within the visual arts. Once you become an artist, there are various specialties you can pursue, such as animation, illustration, or sculpture. For the purposes of this overview, "artist" is taken to mean somebody who represents ideas, likenesses or concepts using media such as paint, oils, acrylics, watercolor, pastels, charcoal, pencil, or ink. Most commercial artists attend formal art college training. This usually comprises a foundation course where you will get to experiment with a broad range of media, whether you have experience of it or not. This part of the program is important for students to discover where their talents lie. Indeed, it is often the case that students interested in one discipline change direction after the foundation course to pursue art in a different medium e.g. they may change from sculpture to oil painting.
As well as the obvious role of commercial artist, where you may sell your works to the general public, you might decide to concentrate in portraiture. There is even a niche market for portraiture or sculpture of owners' pets such as cats, dogs and horses. Other roles, which may be of interest to you, include police sketch artist. In addition to capturing human likenesses, you will need to be able to translate a victim or witness's description of a person. Courtroom sketch artist is a similar role however they need to work quickly and accurately, as the subjects are constantly moving, or may only be in the court for a short period of time.

source: http://www.creativeartschools.com

29 Juli 2009

SENI RUPA ISLAM

Seni rupa Islam adalah seni rupa yang berkembang pada masa lahir hingga akhir masa keemasan Islam. Rentang ini bisa didefinisikan meliputi Jazirah Arab, Afrika Utara, Timur Tengah, dan Eropa sejak mulai munculnya Islam pada 571 M hingga mulai mundurnya kekuasaan Turki Ottoman. Walaupun sebenarnya Islam dan keseniannya tersebar jauh lebih luas daripada itu dan tetap bertahan hingga sekarang.

Seni rupa Islam adalah suatu bahasan yang khas dengan prinsip seni rupa yang memiliki kekhususan jika dibandingkan dengan seni rupa yang dikenal pada masa ini. Tetapi perannya sendiri cukup besar di dalam perkembangan seni rupa modern. Antara lain dalam pemunculan unsur kontemporer seperti abstraksi dan filsafat keindahan. Seni rupa Islam juga memunculkan inspirasi pengolahan kaligrafi menjadi motif hias. Dekorasi di seni rupa Islam lebih banyak untuk menutupi sifat asli medium arsitektur daripada yang banyak ditemukan pada masa ini, perabotan. Dekorasi ini dikenal dengan istilah arabesque.

Ciri dan periodisasi
Seni rupa Islam tidak berdiri sendiri seperti Seni rupa Buddha ataupun Barat. Ia merupakan gabungan dari kesenian daerah-daerah taklukan akibat adanya ekspansi oleh kerajaan bercorak Islam di sekitar Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Kecil, dan Eropa dan penakulukan oleh bangsa Mongol. Daerah ini didefinisikan sebagai Persia, Mesir, Moor, Spanyol, Bizantium, India, Mongolia, dan Seljuk. Selain itu ditemukan pula pengaruh akibat hubungan dagang, seperti Tiongkok. Ini disebabkan miskinnya seni rupa asli Arab pada saat itu walaupun dalam bidang sastra dan musik sebenarnya memperlihatkan hal yang menakjubkan. Keberagaman pengaruh inilah yang membuat seni rupa Islam sangat kaya. Hal ini terutama bisa dilihat dari arsitektur Islam yang memperlihatkan gabungan corak dari berbagai daerah.

Seni rupa asli Jazirah Arab
Seni rupa asli Jazirah Arab bisa terlihat dari arsitektur di sekitar wilayah Makkah dan Madinah. Kedua kota ini merupakan pusat pemerintahan pada masa Nabi Muhammad. Biasanya arsitektur asli Jazirah Arab berupa bentuk bangunan segi empat sederhana yang difungsikan sebagai tempat ibadah. Bagian tengah merupakan lapangan terbuka dengan dikelilingi pilar, dinding, dan kamar-kamar. Lapangan berfungsi sebagai tempat salat berjamaah dan di bagian depan kiblat terdapat mimbar untuk khatib yang memberikan ceramah keagamaan. Contoh bangunan yang masih memperlihatkan ciri arsitektur ini adalah Masjid Nabawi.

Seni rupa Umayyah
Masjid Umayyah, SyriaSeni rupa pada zaman Umayyah banyak dipengaruhi oleh kesenian Bizantium, sebagai akibat dipindahkannya pusat pemerintahan Islam dari Makkah ke Syria. Seni rupa ini banyak memperlihatkan ciri seni rupa kristen awal, yaitu bentuk-bentuk basilika dan menara. Seperti bisa dilihat di Masjid Umayyah yang awalnya adalah Gereja Johannes di Damaskus. Interior masjid ini digarap seniman-seniman Yunani dari Konstantinopel. Pada masa ini ragam hias mosaik dan stucco yang dipengaruhi oleh pengulangan geometris sebagai tanda berkembang pesatnya ilmu pengetahuan. Selain itu ciri khas lapangan di tengah masjid mulai digantioleh ruangan besar yang ditutup kubah. Pada masa ini pula dikenal kalifah yang sangat memperhatikan kelestarian masjid-masjid, yaitu Kalifah Abdul Malik dan Kalifah Al-walid. Kalifah Abdul Malik membangun Kubah Batu Karang (dikenal pula dengan nama Masjid Quber esh Sakhra dan Masjid Umar) sebagai pengingat tempat dinaikkannya Nabi Muhammad ke langit pada peristiwa Isra-Miraj. Selain itu dibangun pula Masjid Al Aqsa. Dinasti Umayyah juga meninggalkan banyak istana yang memiliki ciri tersendiri, yaitu bangunan di tengah-tengah gurun pasir yang terasing, walaupun kini banyak yang telah rusak. Contohnya adalah Istana Kusair Amra.

Seni rupa Abbasyiah
Perkembangan seni rupa periode ini dimulai sejak tahun 747 M sebagai akibat keruntuhan Dinasti Umayyah akibat revolusi oleh Keluarga Abbasiyah bersama kelompok Syiah. Seni rupa ini terkonsentrasi di pusat pemerintahan baru di daerah Baghdad dan kemudian pindah ke Sammara, Persia (sekarang wilayah Iran dan Irak). Walaupun sebenarnya Baghdad adalah pusat pemerintahan dan kebudayaan, namun penyerangan oleh bangsa Mongol membuat hampir seluruh peninggalan di daerah ini musnah, sehingga bukti karya lebih banyak didapat di daerah-daerah sekitarnya. Seni rupa pada zaman ini maju akibat lancarnya perdagangan dengan bangsa Syria, Tiongkok, India, dan bahkan Nusantara. Selain itu dimulai banyak penerjemahan tulisan-tulisan kuno Yunani, sehingga seni ilustrasi berkembang. Peninggalan penting dari masa ini adalah Masjid Mutawakkil, Masjid Abu Delif, dan bekas istana kalifah. Masjid pada zaman ini berciri mirip bangunan kuno mesopotamia, yaitu menara yang semakin mengecil di bagian ujungnya dan motif hias abjad Kufa, yaitu motif hias dari kaligrafi berbentuk tajam dan kaku. Selain itu ditemukan bentuk tiang melengkung. Pindahnya kekuasaan dari keluarga Abbasyiah ke Fatimiyah dan dipindahkannya ibukota ke Mesir membuat pengaruh seni Afrika Utara menjadi kuat.

Seni rupa Turki
Pengaruh Turki didapat dari penaklukan Iran oleh bangsa Turki pada abad 11 M. Di bawah kekuasaan ini Bizantium, Iran, Mesopotamia, dan Asia Kecil bersatu di bawah kerajaan bercorak Islam. Pada masa ini seni rupa yang berkembang adalah dekorasi dan tekstil. Antara lain ditemukan teknik hias batu bata. Selain itu ditemukan kaligrafi dengan abjad nashi dan juga banyak pengaruh keramik-keramik Tiongkok dari dinasti Sung.

Seni rupa Kordoba
Dimulai pada tahun 750, Seni rupa Kordoba meliputi daerah Spanyol dan Moor. Contoh peninggalannya adalah Masjid Kordoba. Ia merupakan gabungan kesenian Yunani klasik dan kesenian lokal yang tidak terorganisasi dengan baik menjadi satu kesatuan. Ciri utamanya adalah pelengkung tapal kuda. Ciri khas seni rupa dari Moor adalah pemakaian motif yang diinspirasi oleh pengulangan ilmu ukur.

Kontroversi hukum seni rupa
Ada banyak sekali pendapat mengenai seni rupa di dalam Islam. Pandangan kaum konservatif yang populer pada awal kemunculan Islam beranggapan bahwa segala bentuk peniruan adalah usaha menyaingi kesempurnaan Tuhan dan wujud keinginan menciptakan Tuhan baru.
Tetapi banyak pula yang menyatakan bahwa bagaimanapun hasil penciptaan manusia tetap tidak akan bisa menyamai apa yang telah diciptakan Tuhan ataupun Tuhan itu sendiri, sehingga seni rupa tidak bisa dianggap penjiplakan saja, tetapi diiringi pula dengan stilasi yang memperlihatkan keagungan Pencipta. Sementara pendapat lain terbentuk atas pengaruh kebudayaan Eropa, yang menganggap proses seni rupa adalah hal normal, ia sama sekali tidak bisa dianggap sebagai usaha menciptakan makhluk baru ataupun Tuhan baru, sehingga sama sekali tidak perlu dilarang.
Bagaimanapun sangat sulit menemukan peninggalan seni patung dari seni rupa Islam, karena sejarahnya yang berhubungan langsung dengan tindakan berhala. Tetapi tidak sulit menemukan bentuk-bentuk makhluk hidup dalam bentuk perabotan. Juga dengan mudah bisa ditemukan lukisan-lukisan di dinding istana dan gambar ilustrasi untuk buku-buku terjemahan ilmu pengetahuan walaupun hanya sebagai tiruan dari ilustrasi buku aslinya.

sumber: sudarmawan-rimbow

SENI RUPA ISLAMI

Seni adalah keindahan. Ia dapat tampil dalam beragam bentuk dan cara, selama arah tujuannya mengantar manusia pada nilai-nilai luhur, maka ia dalah seni Islami. Karena itu Islam dapat menerima aneka ekspresi keindahan selama tak bertentangan dengan nilai-nilai Al Khair dan Al Ma’ruf, yaitu nilai universal yang diajarkan Islam serta nilai-nilai lokal dan temporal yang sejalan dengan budaya masyarakat, selama tak bertentangan dengan Al Khair tersebut. Demikian ungkap M. Quraish Shihab, Direktur Pusat Studi Al Quran (lembaga pendidikan, penelitian, pengembangan dan sosialisasi studi Al Quran), dalam pengantar pameran Islamic Art Auction, 6 – 13 September 2008 di Plaza Indonesia, Jakarta.
Banyak yang salah paham mengenai sikap Islam terhadap seni atau mempersempit ruang lingkup yang dibenarkan agama ini. Padahal ruang lingkup seni Islami sangat luas.
Tentang seni pahat misalnya, saat sahabat-sahabat Nabi SAW menduduki Mesir, mereka menemukan aneka patung peninggalan Fir’aun. Para sahabat tak menghancurkannya, karena saat itu patung-patung tersebut sudah tidak disembah atau dikultuskan lagi. Bahkan, kini peninggalan tersebut terpelihara dengan baik sebagai pelajaran dan renungan bagi yang memandangnya.
“Benar ada riwayat mengatakan, “Malaikat tak akan masuk ke suatu rumah bila di dalamnya terdapat patung.” Tetapi itu bila patung tersebut disembah, atau melanggar sopan santun, atau mengundang selera rendah,” papar Quraish Shihab. “Bila pahatan itu tak mengarah ke penyembahan selain Allah, tapi merupakan ekspresi keindahan semata, maka boleh saja,” lanjutnya.
Menikmati keindahan adalah fitrah manusia, dan Islam adalah agama universal yang bertujuan membangun peradaban.

04 Mei 2009

Seni Rupa, Fakta dan Mitos

Dalam kurun waktu sekitar tiga tahun terakhir, perkembangan dunia seni rupa di Indonesia setidaknya yang saya amati di wilayah Yogyakarta nampak begitu bergemuruh, hangar-bingar, dan penuh dinamika. Pekembangan ini tidak berdiri sendiri, namun sedikit banyak memiliki jalur relasi dengan isu bubble market yang telah meledak, terutama di seni rupa kontemporer China dan berimplikasi ke segala penjuru, termasuk di Indonesia. Untuk konteks perbincangan seni rupa di Indonesia, situasi ini berkait dengan tiga hal yang saling bertali-temali satu sama lain, yakni ihwal kreasi, mediasi, dan resepsi.

Ihwal kreasi berpijak pada bergairahnya para seniman atau perupa dalam melakukan praktik proses kreatif untuk memproduksi karya. Untuk kasus di wilayah Yogyakarta yang saya amati, praktik ini banyak dibentuk (karakternya) oleh spirit komunalitas Yogyakarta yang amat kodusif. Ada iklim keguyuban yang saling mempengaruhi, saling bantu, saling berkompetisi yang relative cukup sehat antar seniman dan antarkelompok seniman. Kesenimanan para (calon) seniman banyak dibantu oleh situasi ini. Dan tentu saja di-back up dengan cukup akomodatif oleh lembaga pendidikan seni di tingkat perguruan tinggi dan sekolah menengah, juga komunitas-komunitas yang merimbun di kawasan ini. Spirit komunalitas yang terbangun secara antarpersonal dan antarkomunitas dalam dunia internal seni rupa, juga disiplin (ilmu, profesi) lain telah melahirkan jejaring interkoneksitas yang konstruktif untuk mengayakan jagad citra kreatif perupa Yogyakarta.

Sementara ihwal mediasi menyoal pada problem penempatan keluaran kreatif seniman yang dipresentasikan ke ruang publik dan kemudian masuk dalam ruang-ruang social(isasi) yang lebih luas. Mediasi dan sosialisasi di tingkat pertama adalah ketika karya seniman dipresentasikan di ruang-ruang publik seni seperti galeri atau ruang pameran lain. Kemudian, bertingkat pada sosialisasi karya seni kepada masyarakat lewat peran mediator seperti jurnalis, kurator dan kritikus atau pengamat seni yang sedikit banyak telah membantu mendistribusikan ide kreatif dan pemikiran seniman ke dalam ranah yang lebih luas lagi. Tak sedikit pameran berkualitas berlangsung di sebuah galeri di Yogyakarta, misalnya, yang kemudian dimediasikan dengan baik dan meluas oleh media massa, telah beresonansi jauh melampaui batas-batas geografisYogyakarta. Mediasi ini lalu beranak-pinak melahirkan pewacanaan yang dibawa oleh karya kreatif. Di satu sisi seniman “mengabarkan” hasil representasinya atas realitas sosial dan realitas imajinasinya lewat karya. Sedang di sisi lain, representasi itu telah “beralih rupa” oleh pembacaan publik (seni) di kawasan yang sama atau kawasan lain menjadi wacana realitas kreatif. Di sinilah kemudian pewacanaan seni rupa berlangsung dengan lebih luas dan bertingkat-tingkat.

Sedangkan ihwal resepsi lebih menyoal pada masalah daya serap yang melibatkan publik seni dan masyarakat luas dalam mengapresiasi atau menonton karya seni rupa, karena merekalah salah satu tujuan utama hasil proses kreatif dimuarakan. Seperti halnya poin kedua, resepsi (serapan) publik ini dibayangkan akan berimplikasi pada merebaknya pewacanaan yang meluas dan inspiratif bagi publik. Meski demikian, ada kesadaran awal yang mesti lebih dulu dipahami bahwa publik memiliki keragaman (latar belakang pendidikan, sosial, intelektualitas, dan lainnya yang berkait) dalam membaca dan memahami karya seni.

Publik seperti “pemilahan” yang dikategorisasikan oleh Roland Barthes dalam Image-Music Text (1997) ada yang membaca karya dalam tahap perseptif, yakni berupaya melakukan transformasi gambar ke kategori verbal atau membangun imajinasi sintagmatik. Lalu tahap kognitif, yaitu membangun konotasi atas gambar dengan bekal pengetahuan kultural tertentu beralaskan imajinasi paradigmatik. Dan berikutnya tahap etis-ideologis, yakni tahap pembacaan konseptual yang didasarkan oleh imajinasi simbolik.

Tahapan atau hierarkhi ihwal resepsi di atas merupakan fakta yang tak dapat ditolak, tetapi justru bisa didekati oleh seniman sebagai sebuah strategi dalam berkesenian. Karena secara obyektif dapat dilihat bahwa problem terbesar dari paparan di atas adalah pada ihwal resepsi. Tak sedikit seniman di sekitar kita yang telah berkarya sangat intensif-kreatif tetapi belum menemukan muara resepsi dari publik yang cukup memadai.

***
Dengan melihat realitas yang terjadi secara umum di peta seni rupa Indonesia dewasa ini, lalu, apakah fakta tersebut juga senafas dengan yang terjadi di medan seni rupa “yang lain”, misalnya jagad seni rupa yang diampu oleh para pendidik di bangku-bangku sekolah? Lebih dari itu, apakah para pendidik seni rupa di bangku sekolah juga berperan menjadi aktor penting yang mampu memediasikan kecenderungan praktik dan pewacanaan seni rupa terhadap anak didiknya? Apakah dinamika seni rupa dewasa ini juga bergaung dan mengimbas pada cara berpikir anak didiknya?

Rentetan pertanyaan ini niscaya bukanlah hal yang baru dimunculkan. Namun justru karena bukan perkara yang baru, maka patut diduga ada problematika yang cukup kompleks antara fakta yang mengemuka atas dinamika tersebut dan realitas yang bergerak di dunia pendidikan seni. Problem itu, terutama, adalah keberjarakan yang timpang, yang pertautan antara keduanya seolah merupakan dua kontruks bernama fakta dan mitos. Pemahaman ihwal fakta mengacu pada kejadian, situasi, kualitas, hubungan atau keadaan yang sungguh-sungguh ada dan terjadi secara aktual dan nyata. Sedang mitos dimengerti sebagai suatu cerita yang dianggap benar, tetapi tidak diakui sebagai benar, karena ada sedikit hubungan dengan ihwal metafora atau semacam perumpamaan. Sehingga realitas yang terjadi tentang dinamika seni rupa, ketika dikembalikan dalam konteks pendidikan seni rupa, sekali lagi, akan serupa dengan relasi antara fakta dan mitos. Seolah-olah senyatanya ada, namun bisa jadi kabur di tengah realitas lain yang berseberangan.

Kita bisa menyimak, misalnya, deretan contoh-contoh yang tak bisa dipungkiri masih saja terjadi di tengah-tengah kita. Contoh yang paling melegenda adalah narasi tentang Raden Saleh yang punya pengalaman dipinggirkan dalam pergaulan antarseniman saat awal-awal menetap di Eropa dulu. Sehingga, Raden Saleh sampai “memalsu” dengan membuat patung serupa dirinya yang tergeletak berdarah-darah di kamarnya. Kawan-kawannya kaget, iba, dan setelah itu menaruh hormat kepada Raden Saleh sebagai seniman Timur yang berbakat. Kisah ini, entah benar adanya sebagai fakta atau sekedar kerja para penggosip jaman dulu, ternyata telah menjadi sebuah mitos bagi banyak anak-anak SD, SMP, bahkan SMA yang mempelajari sejarah seni rupa Indonesia, khususnya tentang Raden Saleh.

Bagi saya, bukan soal benar-salahnya itu terjadi, namun lebih pada penggiringan ingatan anak-anak akan potongan kisah sejarah seni rupa yang cenderung membodohkan. Jarang di bangku sekolah diajarkan dengan detail tentang karya lukis “Penangkapan Diponegoro”-nya Raden Saleh yang bernilai patriotik dan heroisme karena secara lugas, langsung dan tegas menentang penggambaran ihwal penangkapan Diponegoro yang dimonumenkan secara subyektif versi Hindia Belanda lewat lukisan Jan Pieneman beberapa tahun sebelumnya. Artinya, di sini, problem dunia seni rupa yang ternyata memiliki content mendalam dan dijadikan sebagai alat perjuangan, tak banyak diketahui oleh para pendidik seni rupa. Mereka, barangkali hanya sibuk mempermasalahkan dunia seni rupa sebagai dunia keindahan, komposisi, warna, dan ihwal yang berkait dengan soal eksotika visual dan kebentukan semata. Jarang menyentuh pada problem pendalaman makna yang terkandung dalam teks seni rupa.

Juga, contoh lain, ihwal penteorisasian yang diimplementasikan secara sembrono. Misalnya, dalam soal aliran karya seni lukis karena pendidik seni rupa masih banyak yang mendasarkan adanya aliran-aliran. Banyak dikatakan dalam kelas bahwa aliran lukisan maestro Indonesia Affandi adalah ekspresionisme. Aliran ini diterangkan sebagai aliran lukisan yang dasarnya adalah melukis dengan cepat atau ekspres (mengacu pada kereta ekspres, bus ekspres, dan semacamnya). Bukan pada pemahaman yang tepat bahwa Affandi mengedepankan aspek ekspresi diri yang ditumpahkan secara ekspresif tatkala melukis. Bagi saya, ini bukan lagi sebuah praktik simplifikasi terhadap anak didik. Parahnya, kalau narasi tersebut dipahami sebagai fakta dan kebenaran.

Inilah salah satu contoh adanya keberjarakan yang menguat dalam jagad dunia pendidikan seni rupa, yang cukup berseberangan dengan perkembangan seni rupa di “pentas yang lain”. Keduanya seolah bergerak sendiri-sendiri, dan yang satu menciptakan faktanya sementara di bangku sekolah menciptakan mitos semaunya. Maka, yang terjadi adalah interpretasi-interpretasi yang semu dan menjauhi “kebenaran”.

Adakah ini berkait dengan proses pembelajaran seni rupa yang kurang menggairahkan di bangku sekolah?

***
Menurut Robert H. Beck, Walter W. Cook, dan Nolan C. Kearney (1963) ada tiga hal penting yang idealnya diketahui tentang kurikulum, yaitu tujuan, metode dan perlengkapan pembelajaran, serta karakter peserta didik. Terkait dengan karakter anak didik, merumuskan kurikulum untuk mereka tak bisa dilepaskan dari perkembangan anak, baik itu perkembangan sosial, belajar, bermain, emosi, moral, spiritual, dan sebagainya. Dua hal penting yang perlu ditekankan di sini adalah kebutuhan anak untuk bermain dan bersosialisasi. Maka, tidak akan optimal sebuah pembelajaran, jika tidak memperhatikan perkembangan dan kebutuhan anak. Ini juga menjadi satu upaya untuk mendudukkan anak secara ‘manusiawi’ dalam proses belajar.

Sementara Carl Bereitel (1974) menulis bahwa kekuatan terbesar pembelajaran adalah pengembangan aspek kognitif. Pembelajaran di sekolah, jelas, memiliki pengaruh kognitif pada anak. Secara kognitif, dengan belajar di sekolah, anak akan belajar mengkode informasi, narasi secara sistematis, mengkategorikannya, dan kemudian mengingatnya secara efektif. Dengan kata lain, anak akan belajar mengorganisasikan informasi, termasuk informasi yang abstrak.

Maka kalau pendidik mengelirukan sebuah narasi dan informasi, apalagi dengan “sewenang-wenang” seperti kisah Raden Saleh dan Affandi, maka, ada banyak hal yang harus dibenahi di sini. Misalnya metode pembelajaran. Perlu metode yang, misalnya, dapat merangsang rasa ingin tahu peserta, apalagi pendidik menerapkan permainan dalam belajar (learning games). Terus terang, saya tidak akan memberikan resep konkret atas problem metode tersebut. Namun pada intinya, transfer pengetahuan tentang seni rupa dalam dunia pendidikan dewasa ini mesti dilakukan dengan “gerakan” yang lebih besar dan menyeluruh untuk mengejar ketertinggalan antara yang berada di dunia pendidikan dan “dunia pentas yang lain”, untuk memotong pendek antara yang fakta dan mitos. Semoga bisa! Salam!

Kuss Indarto, pamerhati seni rupa, tinggal di Yogyakarta.

sumber: http://www.pppgkes.com/

21 Januari 2009

Drawing

Drawing atau menggambar bermula dari goresan dan torehan material keras (seperti pensil, pena, pastel, dan charcoal) pada kertas. Tetapi drawing juga bisa dikerjakan dengan media tinta dan cat air yang dikombinasikan dengan gorean material-material keras tersebut.
Drawing juga adalah teknik menggambar paling tua dan paling murni untuk mengungkapkan perasaan manusia lewat gambar.

Drawing starts from scratch and cut hard materials (such as pencils, pens, pastels, and charcoal) on paper. But drawing can also be done with the media ink and watercolor gorean combined with hard materials such.
Drawing is also a oldest techniques and most genuine human beings to express their feelings through pictures.